Frau “Starlit Carousel”


    

Frau - Starlit Carousel

Frau - Starlit Carousel

    

“Merakit mesin penenun hujan
hingga terjalin terbentuk awan
Semua tentang kebalikan,
terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu
Keputusan yang tak terputuskan,
ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentan kebalikan,
kebalikan di antara kita……”
(Frau – Mesin Penenun Hujan)

     

Press Release FRAU “Starlit Carousel”     


Perkenalkan, Frau adalah nama panggung yang digunakan oleh Leilani Hermiasih Suyaga yang berasal Jogjakarta. Panggilan akrabnya Lani. 

Beberapa bulan yang lalu, ia mencuri perhatian ketika memainkan salah satu komposisi ciptaannya di salah satu segmen Kick Andy, talkshow paling berbahaya yang dimiliki Indonesia saat ini.   

Setelah itu, segepok perhatian pun diarahkan padanya. Untuk merespon, diperlukan waktu beberapa bulan guna merampungkan rilisan pertamanya.   

Ia datang dengan sebuah mini album berjudul Starlit Carousel, yang sekaligus menjadi monument pertamanya di industri musik Indonesia.   

Album ini adalah jabat tangan erat pertama yang diulurkan olehnya. Mini album ini berisi enam buah lagu yang kesemuanya digarap dengan basis piano.   

Dengan ditemani oleh Oskar, piano andalannya, Frau mengukir sebuah karya yang penuh dengan lekukan-lekukan eksotis yang bisa jadi menjadi barang langka di industri music Indonesia sekarang ini. Ketika hampir tidak ada penyanyi perempuan yang bermain sendiri dengan instrumen andalan sekaligus diberkahi kemampuan untuk menulis dan memproduseri komposisinya sendiri.   

Kemuculannya sekaligus menjadi penanda bahwa di genre penyanyi solo perempuan, industri musik Indonesia tidak pernah kehabisan talenta. Ini sekaligus membuat nama-nama seperti Kartika Jahja atau Mian Tiara seolah punya kompariot untuk merancang tur bersama yang senada. 

Kemunculannya sekaligus menjadi penanda bahwa di genre penyanyi solo perempuan, industry musik Indonesia tidak pernah kehabisan talenta. Ini sekaligus membuat nama-nama seperti Kartika Jahja atau Mian Tiara seolah punya kompatriot untuk merancang tur bersama yang senada. 

Single pertama, Mesin Penenun Hujan menjadi amunisi mematikan untuk meyakinkan orang banyak bahwa Frau memang harus dipandang dengan dua belah mata komplit. Supaya mendapatkan sebuah gambaran komplit dan rasa untuk secara maksimal menikmati karyanya. 

Perpaduan antara vokal maut dan tema lagu yang memotret sisi standar cinta menjadi daya pikat utam komposisi ini. 

Cinta juga menjadi identitas yang berhasil digunakan Frau untuk memotret banyak ragam kehidupan manusia. “Lagu-lagu di album ini pada intinya merupakan respon perempuan muda atas bermacam hal dalam hidupnya; sahabat, keluarga, identitas, dan cinta pada umumnya,” jelas Lani tentang enam lagu di Starlit Carousel. 

Satu lagi di album ini di antaranya merupakan reinterpretasi komposisi lama milik Melancholic Bitch, band yang juga berasal dari Jogjakarta. Lagu itu berjudul Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa dan menghadirkan Ugoran Prasad, vokalis Melancholic Bitch pada seksi vocal tamu. 

Selain Ugoran, di lagu Rat and Cat, Lani juga mengundang Woto Wibowo, pengelola netlabel Yes No Wave Music, yang merilis album ini pertama kali via dunia maya. 

Berbicara tentang proses perilisan album ini, juga ada hal yang menarik. Sebelum dirilis secara luas dalam bentuk cd fisik, Starlit Carousel dilepas secara gratis kepada publik lewat kanal Yes No Wave Music. Hal ini membuat sosok Frau ada di liga yang sama dengan sejumlah musisi “freewill” yang sama sekali tidak menganggap gratis atau berbayar adalah isu dalam proses menikmati musik. 

Cd fisik album ini nantinya akan menampilkan sejumlah hal yang secara visual (dan audio) membuat diferensiasi yang jelas dengan versi digitalnya yang sudah dirilis terlebih dahulu. Sehingga masih sangat layak dikonsumsi. 

Menarik garis ke belakang, Lani–sosok tunggal di balik wajah Frau—juga tercatat sebagai pemain kibor grup music surf rock, The Southern Beach Terror yang sudah menghasilkan beberapa rilisan. Dengan latar belakang musik yang berbeda total, ini juga sekaligus menjadi sebuah pameran sederhana tentang bagaimana Lani menikmati music dalam berbagai macam wajah. 

“Musik itu teman hidup yang setia, sederhana, dan sempurna sekaligus,” tuturnya. 

Kendati keluar dengan sebuah karya yang nyata-nyata punya gigi, Lani masih menganggap segala sesuatunya sederhana. “Ya, aku main-main aja,” ucapnya diselingi tawa. 

Tapi ada satu misi maha mulia yang membuatnya bisa terus memijak ke tanah dan menikmati respon paling minimal untuk Starlit Carousel. 

“Aku hanya ingin bikin orang senang,” tuturnya singkat menutup pembicaran. 

Starlit Carousel bisa membuatnya meraup respon positif dari orang yang mendengarkannya. Tanpa perlu berlama-lama, Starlit Carousel adalah sebuah album klasik yang akan awet bertahan di hidup banyak orang untuk masa yang panjang. 

Starlit Carousel bisa diunduh di www.yesnowave.com dan versi fisiknya juga akan beredar dalam waktu dekat oleh Cakrawala records dan di distribusikan oleh Demajors. 

sumber: http://blogs.myspace.com/index.cfm?fuseaction=blog.view&friendId=419526266&blogId=530950440

8 thoughts on “Frau “Starlit Carousel”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s