Terima Kasih Kita Kepada Ibu


Tidak terasa kita sudah menginjak dewasa. Masih ingatkah kita tentang masa kecil yang pernah kita lalui dulu??? Mungkin hanya samar-samar saja di otak kita. Sungguh indah masa kecil kita dulu, ketika masih dimanja orang tua. Tapi sekarang, tanggung jawab sudah nampak jelas di depan mata.

* * *

I LOVE MOM

I LOVE MOM

Ingatkah kau…

Dulu…waktu kita berusia 1 tahun, ibu suapkan makanan dan mandikan kita. Cara kita ucapkan terimakasih kepada beliau hanyalah dengan menangis sepanjang malam.

Saat berusia 2 tahun, ibu mengajarkan kita bermain. Tetapi, kita ucapkan terima kasih dengan cara berlari sambil tertawa terkekeh-kekeh apabila beliau memanggil kita.

Ketika kita berusia 3 tahun, ibu menyediakan kita makanan dengan kasih sayang. Tapi apa??? kita mengucapkan terima kasih dengan cara menumpahkan makanan…

Saat kita berusia 5 tahun, ibu membelikan kita pensil warna dan pakaian. Ehhh..kita malah mencorat-coret dinding dan bergolek di lantai kotor.

Ingat nggak waktu kita berusia 6 tahun??? Ibu menggandeng lembut tangan kita ke TK. Kita mengucapkan terima kasih dengan menjerit “Nggak mau…!!! Nggak mau sekolah..!!!

Setelah usia kita menginjak 7 tahun, ibu membelikan kita bola… Kita mengucapkan terima kasih dengan cara memecahkan kaca tetangga.

Waktu kita 8 tahun, ibu mengantarkan kita ke sekolah. Tapi kita mengucapkan terima kasih dengan membolos.

Di usia 11 tahun, ibu menghabiskan waktu seharian hanya untuk kita. Tapi, kita mengucapkan terima kasih dengan tidak menegur sapa dan asyik bermain dengan teman-teman kita.

Menjelang usia 13 tahun, ibu menyuruh kita memakai pakaian yang nenutup aurat. tapi dengan lantangnya kita berkata “A ibu, pakaian itu tidak sesuai dengan trend sekarang!!!”

Ketika usia kita 18 tahun, ibu menangis bahagia waktu mengetahui kita masuk universitas yang kita dambakan. Tetapi, kita mengucapkan terima kasih dengan bersuka ria dengan teman-teman kita.

Saat usia 20 tahun, ibu bertanya, “Sudah adakah teman istimewa di hatimu?”. Kita menjawab, “Bukan urusan ibu!!!”

Setelah berusia 25 tahun, ibu bersusah payah menanggung biaya pernikahan kita. Ibu menangis dan berkata sangat menyayangi kita. Tapi kita membalasnya dengan berpindah jauh dari beliau.

Ketika berumur 30 tahun, ibu memberi nasehat tentang bagaimana merawat bayi kita. Tapi kita malah berkata, “Itu kan dulu, sekarang jaman sudah modern!!!”

Apabila berusia 40 tahun, ibu menelfon kita untuk mengingatkan tentang silaturahim keluarga, dengan PeDenya kita berkata, “Kami sibuk!!! Jadi kami nggak bisa datang!!!”

Menjelang usia 50 tahun, ibu jatuh sakit dan meminta kita untuk menjaganya. Kita bercerita kemana-mana tentang kesibukan dan kisah-kisah ibu bapak yang menjadi beban bagi anak-anaknya…

Dan kemudian, suatu hari…
Saat yang tak diinginkan oleh siapapun…
Kita mendapat berita, jika ibu meninggal dunia….kabar itu sangat mendadak dan mengejutkan…
Dalam linangan air mata, segala tingkah laku kita kepada ibu muncul dalam ingatan kita…

* * *

Saat TK, ibu mengantar kita hingga masuk ke dalam kelas. Beliau harus menunggu di seberang sana… Kita tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, rasa kantun yang menderanya, teriknya matahari yang amat sangat menyengat, hujan deras yang mengguyur tubuh beliau atau rasa jenuh dan bosan yang muncul saat menunggu kita.

Setelah besar, kita sering meninggalkan beliau tuk bermain edan dengan teman-teman. Tak pernah kita ada di sampingnya untuk menunggunya saat beliau sakit dan membutuhkan pertolongan kita.

Ketika kita remaja… Kita sering merasa malu jika berjalan bersama beliau. Pakaian dan dandanannya kita anggap kuno dan tak serasi. Bahkan sering kita sengaja mendahului beliau berjalan satu dua meter, agar orang menyangka kita tak ada hubungan dengan beliau.

Padahal, mengurusi kita sejak kecil, ibu tak pernah memikirkan penampilannya, tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikan kita baju agar kita terlihat cantik dan tampan. Ia pakaiakan juga perhiasan di tubuhnya untuk kita… Ia mengangkat tubuh kita, ketika kita terjatuh, membasuh luka di kaki kita, dan mendekap kita erat saat kita menangis.

Mulai masuk universitas, kita semakin jauh dari beliau. Mana kita yang kos, mana yang tugas-tugas banyak, mana kita ikut organisasi lah… Selalu ada alasan untuk ucapkan “SIBUK!!!”. Kita yang merasa pintar dan cerdas, sering kali menganggap ibu bodoh, tak berwawasan, tak tahu apa-apa!!!

Ibu yang kita anggap bodoh, tak berwawasan, tak berpendidikan selalu mengucapkan nama kita dalam setiap do’a-do’anya. Pengorbanan dan cintanya tak akan pernah habis untuk kita.

Semua memori itu muncul satu persatu dan tak henti-hentinya. Dalam genangan air mata yang mengalir deras, ada kata “MENYESAL!!!”

* * *

Sebelum sesal itu datang dan Tuhan memanggil mereka, coba mulai dari sekarang kita latih diri kita untuk mengucapkan rasa sayang kita. Kalau sedang berkumpul, coba tatap mereka dalam, cium tangan atau pipi mereka kemudian peluk mereka erat. Lalu katakan, “Ibu, I love you so much!!!”.
Fuih, itu lebih dalam maknanya, daripada kita memberi merekan intan permata!!! Katakanlah hal itu, selama masih ada kesempatan. Sesal akan menhantui seumur hidup, jika mereka meninggalkan kita tanpa sempat mengungkapkan rasa sayang kita.

DO IT NOW, BEFORE THEY LEAVE US FOREVER!!!
JANGAN SAMPAI MENYESAL DI KEMUDIAN HARI!!!

I LOVE YOU, MOM

I LOVE YOU, MOM


Di kutip dari Mutiara Amali volume 5, dengan sedikit perubahan.

8 thoughts on “Terima Kasih Kita Kepada Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s